Sindrom Ingin Tampil Dan Ingin Terkenal

Kris Allen (tengah) ketika memenangi American Idol 2009 (kompas)
Psikolog Ratih Ibrahim melihat masyarakat Indonesia yang hidup di era reality show seperti sekarang ini, dihinggapi sindrom ingin tampil.
Pemilik lembaga konsultasi psikologi Personal Growth ini berujar “Dulu tidak ada medianya, sekarang banyak. Tidak hanya koran, tapi juga televisi. Sekali tampil langsung dapat perhatian. Reward-nya bertubi-tubi. Lantas orang berpikir, ‘kalo orang bisa, gue juga bisa. Teatrikal banget deh.”
Ini bisa menjelaskan mengapa orang-orang dari pelosok kampung hingga politisi di Jakarta berlomba-lomba ingin tampil di televisi dan terkenal. Apa yang mendorong orang ingin terkenal? “Popularitas, uang, kekuasaan, perhatian, jaringan dan masih banyak lagi,” jawabnya cepat.
Orang yang tadinya bukan siapa-siapa, tiba-tiba menjadi someone jika tampil di televisi. “Kalau enggak (tampil), who are you? Orang sangat menikmati (jadi terkenal) dan mereka rela ‘berantem’ untuk masuk televisi,” tambahnya.
Ratih tahu benar hal itu sebab dia pernah menjadi psikolog yang mendampingi peserta acara Indonesian Idol 1, 2, 3, dan 4 yang digelar berturut-turut dari tahun 2004 sampai 2007. Dari acara itu, dia jelas melihat bagaimana sindrom ingin terkenal diidap para peserta.
Sindrom ini sebagian memang sengaja dibentuk industri. Peserta Indonesian Idol, misalnya, sejak awal disuruh bermimpi setinggi langit, kemudian didorong memperjuangkan mimpi mereka sampai titik darah penghabisan. ”Dari sini, mereka mulai melihat fatamorgana. Mereka merasa jadi diva. Lebih diva dari diva sebenarnya,” ujar Ratih.
Ketika kompetisi ini berjalan, mereka mendapat tekanan yang luar biasa besar dari keluarga, pengelola acara, dan media. ”Mereka dituntut tampil bagus setiap saat. Meski capek dan sedih, mereka harus tetap tersenyum. Akhirnya senyumnya miring dan besoknya jadi bulan-bulanan media. Kalau diam dibilang sombong, kalau lincah dibilang kecimpringan,” katanya.
Kondisi ini, lanjut Ratih, berpotensi menimbulkan stres. Karena itulah, dia dan timnya ditugaskan memberikan konseling, terapi, dan memodifikasi perilaku peserta. Mereka harus belajar cara makan, duduk, jongkok, sampai menjawab pertanyaan wartawan,” kata Ratih yang biasa menyebut para peserta sebagai ”anak-anakku”.

