TKI di Malaysia tewas gantung diri
Hari Sabtu 13 Juni 2009 pukul 06.30 pagi, seorang pembantu rumah tangga asal Jawa Timur, Nurul Wijayanti binti Sukono ditemukan tewas gantung diri di rumah mertua majikannya, Sia Fok Chai di alamat No 35 Jalan Sri Damai I, Taman Sri Damai 43000 Kajang, Selangor, Malaysia. Lagi-lagi kisah tragis mengenai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia kembali berulang.
Nurul Wijayanti, TKI kelahiran 23 September 1986 sebelumnya bekerja di rumah majikannya Tan Seng Who sejak 2007. Dia bekerja di alamat No 21 Jalan Asa IV, Taman Asa, Kajang, Selangor. Namun kemudian Tan menyuruh Nurul untuk bekerja di rumah mertuanya, Sia Fok Chai untuk bantu-bantu.
Minister Konselor Pensosbud Widyarka Ananta kepada wartawan mengatakan “Di rumah mertuanya itulah Nurul ditemukan gantung diri di belakang kamarnya.” Sia kemudian membawa jenazah Nurul ke Rumah Sakit Kajang 30 menit kemudian. Saat ini, jenazah Nurul masih diotopsi. Hasil otopsi sementara, tidak ditemukan adanya bekas-bekas kekerasan atau pun penganiayaan. Di TKP hanya ditemukan kain batik jarik yang digunakan Nurul untuk gantung diri dan tangga lipat,” terang Widyarka.

detiknews.com
Keterangan resmi hasil otopsi dan penyelidikan terhadap kematian Nurul, menurut Widyarka, akan dilakukan pada Senin, 15 Juni 2009 mendatang.
Widyarka juga mengatakan, Nurul dengan ditemani Tan pernah mendatangi KBRI Kuala Lumpur untuk membuat paspor baru, Kamis 11 Juni 2009 lalu. Ketika itu Nurul beralasan paspor lamanya hilang.
“Bahkan dia juga minta Surat Perjalanan Layak Paspor (SPLP) ke KBRI. Katanya mau pulang. Ya kami berikan hari itu juga. Tapi tiba-tiba sekarang dia ditemukan tewas. Kami kaget juga,” kata Widyarka.
Nurul diketahui bekerja pada agen PJTKI PT Mutiara Putra Utama di Indonesia. Sedangkan di Malaysia, dia bekerja pada agen PT Aries Abadi. Di Indonesia, Nurul beralamat lengkap di Desa Dinden RT 05/02 Kecamatan Wadungan, Ngawi, Jawa Timur.
“Kami akan bicarakan dengan kedua agen itu, mana di antara mereka yang akan menanggung biaya pemulangan almarhumah,” pungkas Widyarka.


