Ledakan Bom di JW Marriott dan Ritz Carlton Membuat Semuanya Berantakan
Agum Gumelar sebagai figur utama dalam rencana kedatangan Manchester United ke Indonesia begitu terpukul dengan buyarnya semua harapan besar itu. Insiden 17 Juli 2009 dan segala dampaknya membuat ia menangis. Agum adalah promotor yang juga ketua panitia lokal tur MU di Jakarta, di mana rencana hajatan langka dan berharga ini sudah tercanangkan sejak pertengahan Januari lalu. Selain dari sisi bisnis, ‘Setan Merah’ bersedia tampil di Stadion Gelora Bung Karno karena fans MU di Indonesia adalah salah satu yang terbesar jumlahnya di dunia.

detiksport.com
Akan tetapi insiden pengeboman dua hotel pada Jumat 17 Juli 2009 pagi lalu, JW Marriott dan Ritz Carlton, membuat semuanya berantakan. MU yang bahkan rencananya menginap tiga malam di Ritz Carlton memutuskan batal ke Jakarta, hanya sehari sebelum jadwal semula.
Di setiap kesempatan Agum kerap mengatakan bahwa MU bisa mengangkat citra Indonesia di mata dunia, bahwa negara ini aman dan layak dikunjungi oleh siapa saja, termasuk klub-klub top Eropa. Namun celakanya, teror bom meluluhlantakkan tujuan tersebut. Semua kalangan setuju, Indonesia mundur lagi setelah berupaya keras memulihkan citra pasca dua kali insiden pengeboman di Bali.
Tak heran jika Agum sangat gusar atas kejadian ini. Tak cuma bahwa pihak panitia harus menanggung kerugian sampai Rp 50 miliar, tapi aksi terorisme ini sungguh-sungguh membuat susah semua orang.
Pada pemunculannya di sebuah acara talk show yang disiarkan secara langsung oleh stasiun tvone, Minggu 19 Juli 2009 malam, Agum tampak emosional. Ia begitu serius dan mantap nada suaranya saat memberi peringatan pada beberapa pihak atas kejadian ini.
“Saya berharap kepada pemerintah, Saudara SBY dituntut di sini untuk memperlihatkan sikap tegas, berani dalam mengungkapkan kasus ini. Siapapun orangnya, apa latar belakangnya, tak usah ragu-ragu,” ujar pria asal Tasikmalaya yang pernah menjadi ketua umum PSSI dan KONI itu, serta pernah menjadi calon wakil presiden dan gubernur Jawa Barat itu.
“Untuk polisi, saya rasa perintah SBY sudah jelas supaya bertindak profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat luas, tolong jangan memberi komentar-komentar yang bisa membatasi ruang gerak polisi. Berilah keleluasaan pada polisi untuk mengungkapkan kasus ini. Biarlah hasil pengungkapan yang akan membuktikan.”
Pria 64 tahun yang menjulang karirnya sejak menjadi Danjen Kopassus ini bahkan menyatakan bersedia menjadi eksekutor para teroris itu jika tertangkap dan terbukti bersalah.
“Kalau teroris itu tertangkap, lalu divonis dengan hukuman mati, biar saya yang melaksanakan (eksekusi) hukuman mati itu,” cetus dia, yang disambut tepuk tangan audies yang hadir di studio tvone.
“Saya yakin 99 persen masyarakat Indonesia mengutuk. Jangan biarkan mereka (teroris) bertepuk tangan di bawah gelimpangan darah dan penderitaan orang-orang tak berdosa. Ayo kita tumpas ini. Jangan dibiarkan.”
Bentuk emosi lain yang ditunjukkan Agum adalah ketika acara selesai dan ditutup dengan lagu “Berita Kepada Kawan” oleh Ebiet G. Ade. Saat lagu spesialisasi tragedi itu dilantunkan, Agum beberapa kali menewarang. Pandangannya ke atas, dan perlahan-lahan matanya berkaca-kaca. Kemudian ada airmata yang menitik.


